ngelanjutin polling yang udah ditutup tentang harga bensin, sebagai tanda "sign" untuk semua kalo INDONESIA masih PUNYA HARAPAN...
harapan datang ketika masing-masing elemen negara tidak egois, bukan hanya pemerintah, masyarakat juga termasuk di dalamnya, tidak terkecuali semua aparatur negara. ketidak egoisan jangan dibalas dengan ketidakbertanggung jawaban!!! dari hasil polling, mereka bilang harga bensing tidak perlu turun-run-run... asal itu adalah harga yang "jujur" tanpa sunat sana-sunat sini... yang bikin harga bisa melambung tinggi.
intinya kalo memang kita harus bersusah-susah dulu kita semua mau kok, asal jangan bodohi kami..., saya rasa "kehati-hatian" masyarakat ini karena terlalu lama dibodohi....
kita tidak ingin tumbuh jadi anak manja kok, kami hanya ingin kalian jujur dan tidak lagi berbuat bodoh, simple kan...??!! kami juga akan melakukan hal yang sama kok...
viva INDONESIA, jayalah BANGSA dan NEGARAKU, matilah KETIDAK JUJURAN KITA...
Jumat, 26 Desember 2008
Selasa, 16 Desember 2008
Kebebasan
Kebebasan beda arti dengan keBebasan, beda penggunaan huruf kapital yang berarti perbedaan penegasan...
begitu kira2 yang banyak terjadi sekarang, kebebasan yang menitik beratkan pada BEBAS (berasumsi seBebas-bebasnya)
pada dasarnya tetap ada aturan main dari bebas (itu yang penting), jangan anggap semua peraturan berarti pengekangan terhadap bebas... peraturan ada untuk mempertanggung jawabkan kebebasan itu sendiri jika ada yang bertanya.
"oknum" penjegal kebebasan dan penyeleweng kebebasan akan selalu ada di setiap aspek..., hanya masalah bagaimana kita mampu bersikap dan menanggapinya saja, jangan ikutin mereka coz itu berarti kita tidak bebas juga kan...??!! ;)
kalo contoh kebebasan yang baik itu relatif, jadi saya tidak akan mencontohkannya, berbagi cara aja ya untuk mengukur kebebasan yang baik.... (klo ada yg lain kasih tau saya juga)
salam perjuangan,
begitu kira2 yang banyak terjadi sekarang, kebebasan yang menitik beratkan pada BEBAS (berasumsi seBebas-bebasnya)
pada dasarnya tetap ada aturan main dari bebas (itu yang penting), jangan anggap semua peraturan berarti pengekangan terhadap bebas... peraturan ada untuk mempertanggung jawabkan kebebasan itu sendiri jika ada yang bertanya.
"oknum" penjegal kebebasan dan penyeleweng kebebasan akan selalu ada di setiap aspek..., hanya masalah bagaimana kita mampu bersikap dan menanggapinya saja, jangan ikutin mereka coz itu berarti kita tidak bebas juga kan...??!! ;)
kalo contoh kebebasan yang baik itu relatif, jadi saya tidak akan mencontohkannya, berbagi cara aja ya untuk mengukur kebebasan yang baik.... (klo ada yg lain kasih tau saya juga)
- "lihat" apakah kebebasan itu mengganggu/menyinggung orang lain?
- jujurlah, apakah kebebasan itu mengganggumu atau malah membuatmu "lupa" dengan orang lain?
salam perjuangan,
Jumat, 12 Desember 2008
mulut dan telinga

kebebasan untuk bertanya itu milik semua orang, dan tidak patut untuk dipersalahkan, begitulah kira-kira menurut saya.
lebih baik mana sebenarnya, sedikit bertanya ato banyak bertanya...??
apa kewajiban orang sebelum bertanya...???
adalah beberapa statement yang mengawali tulisan singkat tentang mulut dan telinga ini...
ketika seorang manusia tercipta di dunia dengan kodrat sebagai makhluk yang paleng sempurna, maka bisa dipastikan "tanggung jawab" sebagai makhluk ciptaanNYA jauh lebih besar... itu PASTI !!
lebih baik mana sebenarnya, sedikit bertanya ato banyak bertanya...??
apa kewajiban orang sebelum bertanya...???
adalah beberapa statement yang mengawali tulisan singkat tentang mulut dan telinga ini...
ketika seorang manusia tercipta di dunia dengan kodrat sebagai makhluk yang paleng sempurna, maka bisa dipastikan "tanggung jawab" sebagai makhluk ciptaanNYA jauh lebih besar... itu PASTI !!
Kompleks itu mungkin kata yang pas untuk semua "tanggung jawab" yang harus dihadapi, mulai dari yang telah dibawa sejak kita melihat dunia, sampai dengan yang harus dihadapi sebagai konsekuensi kita mengacak-acak dunia.
Ketika manusia tercipta dengan dua telinga, dan satu mulut, mungkin dengan maksud agar kita lebih banyak dan lebih pandai, atau bahkan lebih hati-hati (memperhatikan dengan seksama) dalam mendengar daripada berbicara.
Dia (telinga) tercipta dengan posisi menyamping di kanan dan kiri, mungkin dengan maksud agar semua "arah" kita perhatikan seksama, mengumpulkan bahan pertimbangan untuk otak (perihal baik/buruknya) yang kemudian diteruskan pada mulut.
Mulut menempati posisi lebih depan dari telinga, menurutku bukan karna dia memimpin dan lebih berkuasa, tetapi karna dia mempunyai "tanggung jawab" untuk menyuarakan perintah otak dari hasil mengkoordinir stimuli rekan-rekannya yang lain, untuk disampaikan kepada manusia yang lain.
kenapa telingan menempati posisi lebih belakang, mungkin karena menjadi dasar ketika manusia yang lain merespon apa yang disuarakan oleh orang lainnya lagi, dia (telinga) dapat menerima informasi (respon) tersebut untuk di berikan lagi pada otak agar dikoordinir dan digabungkan dengan informasi (stimuli) dari rekan-rekan yang lain, agar ketika mulut menyucap/menyuarakan sesuatu berdasar pada data-data yang terkumpul.
berdasar itu berarti menggunakan alas atau latar belakang, agar segala sesuatu mempunyai sebuah alasan yang jelas.
Jadi jika ada sesuatu yang "salah" jangan keburu menyalahkan orang lain, tanyakan pada diri sendiri: apakah telinga dan mulut kita sudah berinteraksi sebagaimana mestinya..????
mendengarlah lebih, berpikir baru berucap
Ketika manusia tercipta dengan dua telinga, dan satu mulut, mungkin dengan maksud agar kita lebih banyak dan lebih pandai, atau bahkan lebih hati-hati (memperhatikan dengan seksama) dalam mendengar daripada berbicara.
Dia (telinga) tercipta dengan posisi menyamping di kanan dan kiri, mungkin dengan maksud agar semua "arah" kita perhatikan seksama, mengumpulkan bahan pertimbangan untuk otak (perihal baik/buruknya) yang kemudian diteruskan pada mulut.
Mulut menempati posisi lebih depan dari telinga, menurutku bukan karna dia memimpin dan lebih berkuasa, tetapi karna dia mempunyai "tanggung jawab" untuk menyuarakan perintah otak dari hasil mengkoordinir stimuli rekan-rekannya yang lain, untuk disampaikan kepada manusia yang lain.
kenapa telingan menempati posisi lebih belakang, mungkin karena menjadi dasar ketika manusia yang lain merespon apa yang disuarakan oleh orang lainnya lagi, dia (telinga) dapat menerima informasi (respon) tersebut untuk di berikan lagi pada otak agar dikoordinir dan digabungkan dengan informasi (stimuli) dari rekan-rekan yang lain, agar ketika mulut menyucap/menyuarakan sesuatu berdasar pada data-data yang terkumpul.
berdasar itu berarti menggunakan alas atau latar belakang, agar segala sesuatu mempunyai sebuah alasan yang jelas.
Jadi jika ada sesuatu yang "salah" jangan keburu menyalahkan orang lain, tanyakan pada diri sendiri: apakah telinga dan mulut kita sudah berinteraksi sebagaimana mestinya..????
mendengarlah lebih, berpikir baru berucap
Langganan:
Komentar (Atom)

