Jumat, 12 Desember 2008

mulut dan telinga


kebebasan untuk bertanya itu milik semua orang, dan tidak patut untuk dipersalahkan, begitulah kira-kira menurut saya.
lebih baik mana sebenarnya, sedikit bertanya ato banyak bertanya...??
apa kewajiban orang sebelum bertanya...???


adalah beberapa statement yang mengawali tulisan singkat tentang mulut dan telinga ini...
ketika seorang manusia tercipta di dunia dengan kodrat sebagai makhluk yang paleng sempurna, maka bisa dipastikan "tanggung jawab" sebagai makhluk ciptaanNYA jauh lebih besar... itu PASTI !!
Kompleks itu mungkin kata yang pas untuk semua "tanggung jawab" yang harus dihadapi, mulai dari yang telah dibawa sejak kita melihat dunia, sampai dengan yang harus dihadapi sebagai konsekuensi kita mengacak-acak dunia.

Ketika manusia tercipta dengan dua telinga, dan satu mulut, mungkin dengan maksud agar kita lebih banyak dan lebih pandai, atau bahkan lebih hati-hati
(memperhatikan dengan seksama) dalam mendengar daripada berbicara.
Dia
(telinga) tercipta dengan posisi menyamping di kanan dan kiri, mungkin dengan maksud agar semua "arah" kita perhatikan seksama, mengumpulkan bahan pertimbangan untuk otak (perihal baik/buruknya) yang kemudian diteruskan pada mulut.
Mulut menempati posisi lebih depan dari telinga, menurutku bukan karna dia memimpin dan lebih berkuasa, tetapi karna dia mempunyai "tanggung jawab" untuk menyuarakan perintah otak dari
hasil mengkoordinir stimuli rekan-rekannya yang lain, untuk disampaikan kepada manusia yang lain.
kenapa telingan menempati posisi lebih belakang, mungkin karena menjadi dasar ketika manusia yang lain merespon apa yang disuarakan oleh orang lainnya lagi, dia
(telinga) dapat menerima informasi (respon) tersebut untuk di berikan lagi pada otak agar dikoordinir dan digabungkan dengan informasi (stimuli) dari rekan-rekan yang lain, agar ketika mulut menyucap/menyuarakan sesuatu berdasar pada data-data yang terkumpul.
berdasar itu berarti menggunakan alas atau latar belakang, agar segala sesuatu mempunyai sebuah alasan yang jelas.

Jadi jika ada sesuatu yang "salah" jangan keburu menyalahkan orang lain, tanyakan pada diri sendiri: apakah telinga dan mulut kita sudah berinteraksi sebagaimana mestinya..????


mendengarlah lebih, berpikir baru berucap





7 komentar:

  1. ehm aku suka bahasa kebebasan tapi apa sih arti bebas itu sendiri menurut bangsa kita ini ? coba bos kasih beberapa contoh kebebasan yang berkonotasi baik

    BalasHapus
  2. menurutku bicara itu bukan hanya sebuah batas pertanggung jawaban omongan kita sama lawan bicara kita aja tapi juga pertanggung jawaban kita sama diri kita dan Tuhan yang maha Esa........................................

    BalasHapus
  3. lebih banyak bertanya atau atau sedikit bertanya yaaaa...... itu kayaknya tergantung iq kita hehehe kalo terlalu oon ya harus banyak tanya wakakakakaka

    BalasHapus
  4. Tapi asline berbuat itu di atas segalanya, mendengar, berpikir, lalu bertindak. VINI, VIDI, VICHI lah pokok e

    BalasHapus
  5. kau yang mengcak-acak, aku yang memperbaiki dunia

    BalasHapus
  6. telinga mulut dan harus ada satu lagi...HATI

    BalasHapus
  7. melihat, mendengar, berucap lebih baik unuk meyimpulkannya...jangan lupa panca indera yg paling rawan...mendengar n melihatlah, rekamlah semua...simpulkan dengan cara berfikirmu...berbicara lah sedikit...

    BalasHapus